SEKILAS INFO
: - Jumat, 17-09-2021
  • 1 bulan yang lalu / Pemenang Lomba Guru Menulis SMKN 1 Tuntang akan diumumkan hari ini pukul 09.45 WIB.
  • 1 bulan yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Dirgahayu Propinsi Jawa Tengah ke 71
  • 1 bulan yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1443 H
Selamat Hari Pendidikan, Mari Belajar dari Covid-19

Saat ini kita masih harus tetap bertahan di rumah. Semua ini karena Covid-19. Ada dua istilah yang berbeda yaitu Coronavirus dan Covid-19. Apa perbedaanya? Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19.

Penyakit Coronavirus 2019 ( COVID-19 ) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di Wuhan , ibu kota provinsi Hubei Cina, dan sejak itu menyebar secara global, mengakibatkan pandemi koronavirus 2019-20 yang sedang berlangsung. Pada 1 Mei 2020, lebih dari 3,3 juta kasus telah dilaporkan di 187 negara dan wilayah, yang mengakibatkan lebih dari 235.000 kematian.

Jauh sebelum Covid-19, beberapa pandemi buruk yang merenggut banyak nyawa telah terjadi. Apa saja pendemi itu? Yang pertama adalah Plague of Justinian. Plague of Justinian adalah wabah yang menginvasi Konstantinopel, ibu kota Kerajaan Byzantine yang kini menjadi Kota Istanbul di Turki. Sejarah mencatat, wabah tersebut tersebar pada tahun 541 masehi. Yersinia pestis dibawa dari Mesir melalui Laut Mediterrania. Bakteri tersebut menempel pada tikus hitam yang berkeliaran di kapal. Wabah ini mematikan Konstantinopel dan menyebar seperti kobaran api ke Eropa, Asia, Afrika Utara, dan Semenanjung Arab. Diperkirakan 30-50 juta orang meninggal, sekitar setengah populasi dunia waktu itu.

Yang kedua adalah Black Death. Delapan ratus tahun sesudah  Plague of Justinian, wabah yang sama melanda Eropa. Pandemi ini terjadi pada 1347, dan disinyalir menewaskan 200 juta nyawa hanya dalam 4 tahun. Pada saat itu, pemerintah kota pelabuhan Ragusa di Italia melakukan karantina terhadap para pelayar untuk membuktikan bahwa mereka tidak membawa penyakit. Pada awalnya, para pelayar ditahan di kapal mereka selama 30 hari. Hukum Venesia menamai kondisi ini sebagai trentino. Kemudian, masa isolasi bertambah menjadi 40 hari yang dikenal sebagai quarantine, asal mula kata quarantine dan karantina.

Pandemi yang ketiga adalah The Great Plague of London. Usai Black Death, wabah tersebut kembali setiap 20 tahun mulai dari 1348 – 1665. Terdapat 40 kali wabah selama 300 tahun. Hingga akhirnya pada awal tahun 1500-an, pemerintah Inggris mengumumkan peraturan untuk memisahkan dan mengisolasi orang sakit. Rumah orang yang terkena wabah diberikan penanda di bagian depannya. The Great Plague terjadi pada 1665, menewaskan sekitar 100.000 warga London hanya dalam waktu 7 bulan. Semua ruang public ditutup dan orang yang terinfeksi wajib mengisolasi dalam rumah untuk mencegah penyebaran penyakit. Mereka yang tewas dimakamkan secara massal.

Yang keempat adalah cacar air. Selama berabad-abad, cacar air merupakan penyakit endemic di Eropa, Asia, dan negara-negara Arab. Penyakit ini menewaskan 3 dari 10 orang yang terinfeksi, sisanya mengalami bekas luka yang cukup parah. Sekelompok orang yang membawa penyakit ini dari masa lampau ke dunia modern adalah para penjelajah Eropa. Populasi yang kini menempati wilayah Meksiko dan AS memiliki nol imunitas terhadap cacar air. Dengan munculnya para penjelajah Eropa, angka kematian di dua wilayah tersebut mencapai puluhan juta orang. Beberapa abad kemudian, cacar merupakan virus epidemi pertama yang memiliki vaksin. Butuh waktu setidaknya dua abad kemudian, yaitu 1980-an, World Health Organization mengumumkan cacar air akhirnya kandas dari muka bumi.

Kolera adalah pandemi yang kelima melanda dunia. Pada awal abad ke-19, penyakit kolera menguasai Inggris, menewaskan puluhan ribu orang. Adalah John Snow, dokter yang menyadari bahwa penyakit tersebut berasal dari air minum. Snow kemudian meyakinkan pemerintah setempat untuk mengganti handle di sumber air Broad Street, kemudian infeksi kolera pun berkurang seketika. Hal yang dilakukan Snow menjadi acuan banyak pihak untuk memperbaiki sanitasi, dan menjaga kebersihan air minum dari kontaminasi bakteri. Saat ini, kolera telah tereliminasi dari negara-negara maju. Namun di negara-negara dunia ketiga, kolera masih menjadi momok karena terbatasnya akses air bersih.

Flu Spanyol, yang juga dikenal sebagai pandemi influenza 1918, adalah wabah virus H1N1 yang menginfeksi sekitar 500 juta orang.  Saat wabah terjadi, Perang Dunia I akan berakhir dan otoritas kesehatan publik tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit protokol resmi penanganan pandemi virus. Pada tahun-tahun selanjutnya, penelitian pun dilakukan untuk memahami bagaimana pandemi terjadi berikut pencegahan yang dapat dilakukan.

SARS SARS atau Severe Acute Respiratory Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh satu dari tujuh jenis virus corona yang dapat menginfeksi manusia.  Pada tahun 2003, wabah ini bermula di Provinsi Guangdong, China, dan menjadi pandemi global saat menyebar ke 26 negara, menginfeksi 8.000 orang, serta menewaskan 774 di antaranya.

Selanjutnya adalah Flu Babi. Bentuk baru dari virus influenza juga sempat muncul di tahun 2009. Wabah ini menginfeksi sekitar 60,8 juta orang di AS, dengan kematian global antara 151.700 hingga 575.400. Penyakit ini disebut sebagai flu babi karena diduga berpindah dari babi ke manusia dalam penularannya.  Flu babi berbeda dengan flu biasanya dimana 80 persen kematian terkait virus terjadi pada orang yang berusia kurang dari 65 tahun.  Pandemi ini pun menunjukkan betapa cepat virus menyebar dan menunjukkan adanya persiapan lebih untuk merespons hal serupa secara lebih cepat di masa yang akan datang. 

Ebola Virus. Pandemi ini dimulai dari sebuah desa kecil di Guinea pada tahun 2014 dan menyebar ke beberapa negara tetangga di Afrika Barat. Virus ini telah menewaskan 11.325 orang dari 28.600 orang yang terinfeksi, dengan sebagian besar kasus di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Kembali ke pandemi saat ini, Covid-19 telah mengubah banyak hal. Terutama di dunia pendidikan. Gara-gara Covid-19 pembelajaran tatap muka di sekolah berhenti. Gara-gara Covid-19 pula Ujian Nasional ditiadakan. Guru dan siswa harus melaksanakan pembelajaran dari rumah. Dibalik kesulitan ada hikmah bagi pendidikan Indonesia. Hikmah yang pertama adalah guru dan siswa “dipaksa” menguasai teknologi pembelajaran online. Berbagai media pembelajaran jarak jauh pun dicoba dan digunakan antara lain e-learning, aplikasi zoom, webex, office 365, google classroom, youtube, atau media sosial whatsapp.

Adanya pandemi covid-19 juga memberikan hikmah yang lainnya. Pembelajaran yang dilakukan di rumah, dapat membuat orang tua lebih mudah dalam memonitoring atau mengawasi terhadap perkembangan belajar anak secara langsung. Orang tua lebih mudah dalam membimbing dan mengawasi belajar anak dirumah. Hal tersebut akan menimbulkan komunikasi yang lebih intensif dan akan menimbulkan hubungan kedekatan yang lebih erat antara anak dan orang tua.

Hikmah ketiga adalah pemakaian handphone atau gadget, dapat dikontrol untuk kebutuhan belajar anak. Peran orang tua semakin diperlukan dalam melakukan pengawasan terhadap penggunaan gadget. Hal tersebut memberikan dampak yang positif bagi anak, dalam memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. Anak cenderung akan menggunakan handphone untuk mengakses berbagai sumber pembelajaran dari tugas yang diberikan oleh guru. Sehingga akan membuat anak menghindari penggunaan gadget pada hal-hal kurang bermanfaat atau negatif.

Semangat guru dan siswa dalam pembelajaran jarak jauh masih terkendala dengan infrastruktur. Kendala pertama adalah  kecepatan internet belum optimal. Laporan yang dirilis oleh OpenSignal menyatakan kecepatan internet 4G Indonesia menempati peringkat ke-74 dari 77 negara. Laporan ini mencatat kecepatan internet dari 94 juta perangkat yang terlibat dalam riset selama 1 Januari hingga 31 Desember 2018. Hasil riset di atas mencatat Indonesia memiliki kecepatan batas bawah jaringan 4G sebesar 6 Mbps. Dengan kecepatan tersebut Indonesia hanya berada di atas Kamboja dengan kecepatan 3,7 Mbps, India dengan 3,7 Mbps, dan Aljazair dengan 2,6 Mbps. Indonesia masih kalah dengan negera berkembang lain seperi Filipina 6,5 Mbps, Pakistan dengan kecepatan 7,5 Mbps, Panama 7,8 Mps, Bahrain 8 Mbps, Pantai Gading 9 Mbps hingga Bangladesh 9,9 Mbps.

Kendala yang kedua adalah internet belum merata ke seluruh pelosok negeri. Harus diakui negara kita adalah negara yang sangat luas terdiri dari kepulauan. Hal ini selalu menjadi tantangan tersediri bagi pemerintah dalam hal pemerataan antara satu daerah dengan daerah lainya. Dalam hal pemerataan koneksi internet, Kominfo sendiri mengakui bahwa sekitar 24.000 desa belum terhubung dengan internet.

Di tengah keterbatasan yang ada, mari bapak dan ibu guru tetap semangat dalam memberikan layanan pembelajaran sesuai dengan teladan Ki Hajar Dewantara. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari “Belajar dari Covid-19” sesuai tema Hardiknas tahun ini. Jangan lupa kita sebagai insan pendidik harus menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19. Mari bersama-sama menghimbau masyarakat untuk mengikuti anjuran pemerintah agar pandemi ini segera berakhir dan anak-anak bisa belajar kembali di sekolah dengan aman.

Bumi Pucanggading, 02 Mei 2020

1 komentar

Husni Binawati, Sabtu, 2 Mei 2020

Terimakasih pak Arman informasinya

Balas

TINGGALKAN KOMENTAR

Tefa Prodi TKJ

Majalah SMKN 1 Tuntang

Data Sekolah

SMKN 1 Tuntang

NPSN : 6990563

Jl. Mertokusumo Candirejo Tuntang Kabupaten Semarang
KEC. Tuntang
KAB. Semarang
PROV. Jawa Tengah
KODE POS 50131
TELEPON 081390220602
FAX 0723-1234567
EMAIL smkn1tuntang@gmail.com

Novel Karya Siswa

Toilet SMKN 1 Tuntang

Agenda

Tefa Prodi Tata Busana

Laboratorium Komputer

Kalender

September 2021
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930