SEKILAS INFO
: - Minggu, 19-09-2021
  • 1 bulan yang lalu / Pemenang Lomba Guru Menulis SMKN 1 Tuntang akan diumumkan hari ini pukul 09.45 WIB.
  • 1 bulan yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Dirgahayu Propinsi Jawa Tengah ke 71
  • 1 bulan yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1443 H
Tadarus & Kultum : Hindari Suudzon

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim. Selamat pagi Indonesia. Happy friday! Alhamdulillah tak terasa kita sudah memasuki hari Jumat, 23 Juli 2021 yang hangat dan cerah. Seperti biasa kami awali hari ini dengan kegiatan tadarus dan kultum, secara online melalui Google Meet. Kegiatan  dimulai pada pukul 08.00. Hari ini kami memasuki juz 30. Kemudian dilanjutkan dengan kultum, yang disampaikan oleh Ibu Anggita Fortuna Dewi, S.Pd.

Kultum yang disampaikan bertema Suudzon. Suudzon atau berburuk sangka merupakan salah satu sifat tercela yang banyak tertanam dalam diri manusia. Suudzon atau berburuk sangka dapat membuat hati kita menjadi buruk dan selalu dipenuhi dengan rasa dengki yang merupakan awal dari penyakit hati, tidak ketinggalan juga ada dalil suudzon di dalamnya.

Suudzon ialah akhlak yang sangat tidak terpuji. Orang yang memiliki sifat suudzon ia akan selalu menafsirkan setiap apa yang terjadi akan menjadi buruk dalam pandangannya. sebagian dari prasangka adalah dosa. Sesiapa yang mempunyai sifat buruk sangka kepada sesama Islam, maka ia wajib bertaubat dan beristiqfar kepada Allah SWT. Orang yang berburuk sangka adalah melakukan perbuatan jahat dan berdosa besar. Dan setiap perbuatan jahat, Allah SWT akan mencampakkannya ke dalam neraka Allah SWT.

Banyak penyebab yang memicu seseorang untuk selalu bersifat suudzon diantaranya ialah : yang pertama Faktor lingkungan. Lingkungan memberi pengaruh yang cukup besar bagi terciptanya sifat suudzon. Lingkungan yang dimaksud bisa keluarga, masyarakat, tempat bekerja, sekolah, dan lainnya. Lingkungan yang kejam, kotor, dan tidak sehat seringkali memberi pengaruh kuat bagi terciptanya kebiasaan suudzon. Lingkungan hidup yang keras bisa menumbuh suburkan sikap cepat curiga, itu identik dengan medan tempat setiap orang harus bertarung mempertahankan hidupnya.

Yang kedua keyakinan yang salah. Keyakinan yang salah bisa melahirkan buruk sangka. Termasuk dalam kategori ini adalah ideologi atau akidah yang salah. Seperti berburuk sangka kepada Allah, dengan menuduh-Nya tidak adil. Orang-orang jahiliah sebelum Islam punya keyakinan yang terkait erat dengan prasangka buruk. Setiap memasuki hari-hari yang baru, mereka mengukur nasib dengan apa yang pertama kali mereka lihat. Bila pagi itu mereka melihat ular, atau burung gagak, atau apa saja yang berwarna hitam, pertanda hari buruk sedang menanti.

Buruk sangka dengan keyakinan seperti itu masih banyak menyebar dan digunakan dalam masyarakat. Terlebih bila masyarakat tersebut dahulunya penganut paham animisme. Masyarakat modern pun banyak yang menggantungkan nasibnya kepada ramalan-ramalan.

Yang ketiga pertahanan diri. Kadang, orang punya prasangka buruk demi kepentingan mempertahankan diri. Rasa aman yang ingin diperoleh seseorang sering kali diwujudkan dengan membuat lingkar pengaman secara psikologis atas semua orang yang dihadapi.

Seperti sangkaan bahwa “ laki-laki yang menuntun motor di tengah malam itu pasti begal, orang yang berambut panjang itu pasti preman, dan lain sebagainya”. Bila berlebihan, buruk sangka karena pertahanan diri bisa menjadi penyakit kepribadian seperti paranoid. Di mana orang punya rasa takut yang sangat berlebihan. Hingga melahirkan anggapan secara konsisten bahwa orang lain berusaha menuntut, merusak, atau mengancam. Bahkan, orang yang berpenyakit seperti itu menolak menceritakan rahasia kepada orang lain karena takut kalau informasi tersebut digunakan untuk melawan dirinya.

Keempat adalah kurang ilmu. Keterbatasan ilmu juga menjadi pemicu bagi munculnya sikap buruk sangka. Minimnya pengetahuan akan berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk memandang masalah, menyimpulkan, serta menentukan sikap atas berbagai peristiwa.

Setiap orang harus sadar, bahwa di atas yang tahu masih ada yang lebih tahu. Di atas yang berilmu masih ada yang lebih berilmu. Apalagi hampir semua ilmu itu dinamis, berkembang, dan memunculkan hal-hal baru. Buruk sangka karena keterbatasan pengetahuan bisa dihindari dengan mencari tahu akibatnya, orang yang ilmu-nya pas-pasan justru menaruh simpati kepada orang yang telah dinilai kurang tersebut.

Dan yang terakhir adalah diskriminasi. Adanya diskriminasi atas orang-orang kecil oleh orang-orang besar dalam berbagai bentuk juga merupakan salah satu korban buruk sangka. Seringkali orang-orang kaya memenuhi pikirannya dengan persepsi bahwa orang-orang miskin itu kumuh, udik, bodoh, bahkan pencuri. Padahal, orang-orang besar banyak juga yang profesinya sebagai koruptor dan penjahat berkerah putih.

Demikian untuk kultum pagi ini, semoga bermanfaat.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tefa Prodi TKJ

Majalah SMKN 1 Tuntang

Data Sekolah

SMKN 1 Tuntang

NPSN : 6990563

Jl. Mertokusumo Candirejo Tuntang Kabupaten Semarang
KEC. Tuntang
KAB. Semarang
PROV. Jawa Tengah
KODE POS 50131
TELEPON 081390220602
FAX 0723-1234567
EMAIL smkn1tuntang@gmail.com

Novel Karya Siswa

Toilet SMKN 1 Tuntang

Agenda

Tefa Prodi Tata Busana

Laboratorium Komputer

Kalender

September 2021
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930