SEKILAS INFO
: - Jumat, 24-09-2021
  • 1 bulan yang lalu / Pemenang Lomba Guru Menulis SMKN 1 Tuntang akan diumumkan hari ini pukul 09.45 WIB.
  • 1 bulan yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Dirgahayu Propinsi Jawa Tengah ke 71
  • 1 bulan yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1443 H
Strategi Membangun Sekolah

Mobil melaju pelan menyusuri beton tol. Jalanan yang padat memaksa saya mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Musik menjadi teman setia menemani rasa suntuk selama perjalanan. Lagu berjudul “Celengan Rindu” milik Fiersa Besari menjadi pembuka lagu ketika melewati pintu tol paling kanan. Saya memang terbiasa mengambil posisi pintu paling kanan ketika memasuki tol Bawen. Kenapa saya senang lagu Celengan Rindu? Karena cewek-cewek cantik yang bersenandung. Lagu yang didendangkan secara cover ini tiba-tiba merangsek naik di Google Trend.. Penyebabnya adalah seorang remaja bernama Keisya (16) menyanyikan lagu itu di ajang pencari bakat Indonesian Idol.

Catatan ini saya tulis berdasarkan pertanyaan dari teman tentang bagaimana membuat analisis permasalahan yang tajam sebagai bahan membuat RKJM, RKT dan program kerja. Saya menyadari setiap sekolah memiliki permasalahan yang berbeda. Perbedaan bobot permasalahan yang dihadapi oleh sebuah sekolah, menyebabkan perbedaan intensitas perubahan yang dituntut. Permasalahan-permasalahan yang tergolong kecil menuntut perubahan yang berskala kecil pula sedangkan permasalahan yang tergolong besar menuntut perubahan yang berskala besar. Terhadap perubahan-perubahan yang  berskala kecil, pimpinan biasanya sanggup menghadapi sendiri (mendiagnosa dan menentukan strateginya), akan tetapi terhadap perubahan yang tergolong besar, biasanya pimpinan membentuk satuan tugas khusus untuk melakukan diagnosis, menentukan tujuan, dan strategi yang akan ditempuh.

Setelah menyadari adanya permasalahan, tahap berikutnya ialah identifikasi terhadap berbagai keterbatasan (constraints) yang dihadapi sekolah dalam melakukan perubahan. Berbagai keterbatasan itu mencakup iklim kepemimpinan, struktur, organisasi, dan karakteristik anggota. Iklim kepemimpinan ialah suasana kerja yang ditimbulkan oleh gaya kepemimpinan seseorang. Apakah suasana kerja cenderung menerima atau menolak terjadinya perubahan banyak ditentukan oleh praktik kepemimpinan yang diterapkan seseorang. Struktur yang fleksibel memberikan kemungkinan yang lebih besar bagi keberhasilan suatu program perubahan dibandingkan dengan struktur yang kaku dan birokratis, kecuali jika strukturnya itu sendiri yang hendak diubah.

Berbagai karakteristik individu (anggota) yang ikut menentukan keberhasilan program perubahan organisasi antara lain : sikap, kepribadian, dan harapan. Karakteristik-karakteristik tersebut harus ikut dipertimbangkan sehingga aspek-aspek yang tidak mendukung dapat dihilangkan (setidak-tidaknya dikurangi), sementara itu aspek-aspek yang mendukung dapat lebih ditingkatkan perannya dalam mencapai keberhasilan perubahan yang dilaksanakan.

Setelah mengenali berbagai keterbatasan yang ada, tahapan berikutnya ialah memilih strategi perubahan yang sesuai. Harold Levitt (Wallace J.M. & A.D. Szilagy: 389) mengemukakan bahwa dalam rangka melaksanakan perubahan organisasi ada empat macam strategi yang dapat dipilih, yaitu perubahan struktur organisasi, perubahan teknologi, perubahan tugas, dan perubahan manusianya.

Perubahan struktur berkenaan dengan pola hubungan kerja antar anggota. Sebagai contoh perubahan dari pola sentralisasi ke dalam desentralisasi atau sebaliknya, perubahan dari bentuk fungsional ke bentuk matrik, perubahan dari struktur yang memiliki tingkat formalitas tinggi ke tingkat formalitas rendah, dan sebagainya.

Perubahan teknologi terutama berkaitan dengan proses dan metode kerja yang digunakan, misalnya penggantian sistem manual dengan mesin, penggunaan komputer, dan penggunaan ICT. Perubahan tugas berkaitan dengan perubahan jenis, macam, maupun jumlah satuan tugas yang dikerjakan anggota. Termasuk dalam katagori ini misalnya mutasi kerja, rotasi kerja, dan penambahan serta pengurangan tugas-tugas yang dibebankan kepada anggota.

Perubahan manusianya ialah perubahan organisasi yang menyangkut faktor orang dalam kedudukannya sebagai warga sekolah. Termasuk dalam katagori ini misalnya program-program latihan, penataran, bimbingan & konseling, dan pemecahan masalah (problem solving).

Permasalahan mendasar pada SMKN 1 Tuntang adalah kekurangan sarana dan prasarana. Kekurangan ini sangat mencolok karena sekolah hanya bisa memenuhi separo kelas dari rombongan belajar yang ada, sekolah tidak memiliki ruang praktik siswa, dan daya dukung sarpras seperti listrik, internet, air, dan jalan minimalis. Maka Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) sekolah memberikan prioritas utama pada pemenuhan sarana dan prasarana.

Setelah dua tahun berjalan yaitu dari 2018 s.d. 2019, sekolah berhasil membangun dua ruang praktik siswa yaitu untuk jurusan Teknik Komputer Jaringan dan Tata Busana, Tiga Ruang Kelas Baru (RKB), satu ruang perpustakaan dan enam kamar mandi baru. Keberhasilan ini karena dukungan luar biasa dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana APBD I. Atas keberhasilan memenuhi sarana ini untuk tahun 2020 SMKN 1 Tuntang tidak lagi kekurangan ruang kelas dan hanya menyisakan satu ruang praktik yang belum dibangun yaitu untuk jurusan TBSM.

Catatan CEO SMKN 1 Tuntang

Bumi Pucanggading, 08 Januari 2020.

2 komentar

Suryonoto, Kamis, 9 Jan 2020

Alhamdulillah… BarakAlloh kang ardan… sukses dan sehat selalu

Balas

    admin, Rabu, 15 Jan 2020

    Amiin, makasih Bos

    Balas

TINGGALKAN KOMENTAR

Tefa Prodi TKJ

Majalah SMKN 1 Tuntang

Data Sekolah

SMKN 1 Tuntang

NPSN : 6990563

Jl. Mertokusumo Candirejo Tuntang Kabupaten Semarang
KEC. Tuntang
KAB. Semarang
PROV. Jawa Tengah
KODE POS 50131
TELEPON 081390220602
FAX 0723-1234567
EMAIL smkn1tuntang@gmail.com

Novel Karya Siswa

Toilet SMKN 1 Tuntang

Tefa Prodi Tata Busana

Laboratorium Komputer

Kalender

September 2021
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930