
Guru dalam perspektif pandangan Jawa ialah digugu lan ditiru, yaitu seseorang yang digugu atau dipercaya dipatuhi dan yang ditiru atau dicontoh diteladani. Guru bukan hanya profesi, tetapi juga sebuah amanah dan pengabdian. Dalam dunia pendidikan, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari sejauh mana mentransfer ilmu kepada peserta didik, tetapi juga dari sejauh mana membawa keberkahan dalam tugas mulianya, baik untuk guru itu sendiri maupun orang lain utamanya bagi didikannya. Profesionalisme dalam mengajar harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritual dan etika, agar tercipta keberkahan yang menyeluruh bagi guru itu sendiri, murid-muridnya dan masyarakat luas. Profesionalisme guru mencakup berbagai aspek, seperti kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Guru yang profesional senantiasa memperbarui ilmunya, memiliki dedikasi tinggi, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bahkan tidak hanya sekadar menjalankan tugas mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap, perilaku dan integritas. Terkadang terkandung makna guru pada instansi pendidikan sekolah akan melekat sampai dirumah dimasyarakat setiap waktu mungkin sampai akhir hayat.
Keberkahan atau barokah adalah bertambahnya kebaikan secara terus-menerus. Dalam konteks mengajar, keberkahan tampak dalam bentuk ilmu yang bermanfaat dan amal yang terus mengalir walaupun guru telah tiada. Seorang guru yang mengajar dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, meski mungkin tidak terlihat oleh mata manusia, akan mendapatkan balasan kebaikan yang luar biasa dari Allah SWT. Dalam wujud yang mungkin tidak terduga apapun. Dari yang ditambah luas rejeki materi, rejeki umur, rejeki kesehatan diri maupun orang sekitar di keluarga. Begitu pula rejeki yang berkah menjadikan orang lebih baik, suami atau istri yang baik, anak-anak yang baik ataupun orang lain sekitar yang menerima manfaat dari keberkahan rejeki yang didapat.
Letak pentingnya menyelaraskan profesionalisme dengan spiritualitas. Guru yang menjaga niat tulus karena Allah, tidak hanya akan mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang berakhlak. Profesionalisme yang dilandasi oleh nilai-nilai keimanan akan menjauhkan guru dari sekadar rutinitas, dan menjadikan pekerjaannya sebagai ladang pahala yang berkelanjutan. Dari perihal kecil diawali dengan niat yang baik semuanya untuk ibadah akan dapat meringankan hingga pada titik keikhlasan. Titik ikhlas inilah yang akan menambah rasa ringan untuk melangkah berangkat dari rumah ke tempat kerja sekolah sesuai dengan aturan maupun kaidah orang bekerja sebagai seorang berprofesi guru yang sesuai dengan bidangnya, sesuai dengan keahliannya menjadi sifat seseorang yang berprofesi guru tersebut. Sehingga Profesionalisme Guru yang diharapkan pengajar menjadi guru yang dipercaya guru yang dipatuhi serta guru yang sebagai contoh teladan guru yang sesuai dengan bidangnya mengajar pada keahliannya linier segaris lurus dilakukan dengan keikhlasan menciptakan keberkahan dalam Profesionalisme Guru yang sesungguhnya.
Di era digital dan modern ini, guru menghadapi tantangan seperti perubahan kurikulum yang cepat seiring kebijakan pemerintahan, tuntutan administratif dan tekanan lingkungan sosial masyarakat yang tentunya sangat majemuk. Namun, guru yang menjadikan profesionalisme-nya sebagai bentuk ibadah akan mampu melewatinya dengan ringan ikhlas sabar dan bijaksana. Pendidikan bukan sekadar soal target akademik, tetapi tentang membentuk karakter dan jiwa. Pembentukan adab dan ilmu sejalan beriringan saling mengisi untuk menjadikan seseorang yang berilmu itu beradab juga. Bukan mempunyai ilmu pintar untuk memintari orang lain, tetapi yang pintar membantu yang masih belum pintar. Keberkahan dalam profesionalisme guru adalah kunci dalam membangun pendidikan yang bermakna. Guru yang menggabungkan kompetensi dengan ketulusan hati akan menjadi cahaya dalam kegelapan zaman minimal menerangi hati pribadi dari gelapnya niat-niat jelek. Seseorang tidak hanya dikenang karena ilmunya, tetapi juga karena cinta dan nilai kebaikan yang ditanamkannya. Pesan Sayyidina Ali dalam masalah sosial berbuatlah baik kepada semuanya maka akan memimpin, seseorang setara karena tidak tergantung pada orang yang lain. Mari menjadi guru yang bukan hanya profesional, tetapi juga membawa keberkahan bagi dunia dan akhirat, menjadi lebih berakhlaq, beradab dan berilmu.
Penulis : Muhammad Misbahul Munir, S.Kom., Waka Ketenagaan SMKN 1 Tuntang



