SEKILAS INFO
: - Minggu, 01-08-2021
  • 3 hari yang lalu / Alhamduillah puji syukur kepada Allah SWT Bapak dan Ibu Guru Karyawan SMKN 1 Tuntang berhasil mengkhatamkan Al Quran untuk kedua kali.
  • 1 minggu yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H. Dengan semangat berkurban kita galang jogo tonggo dan eling lan ngelingke di masa pandemi Covid-19
  • 2 minggu yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah RI yang telah melakukan vaksinasi tahap 2 terhadap guru dan karyawan.
Novel Senja Abu-abu Seri 2

Aku  berseragam  putih  abu-abu  turun  dari  angkutan berwarna hijau. Dengan beberapa teman sekelasku aku masuk kelas. Ahmad sudah duduk di kursiku, sementara teman sebangkuku sudah duduk bersamanya.

“Ahmad, kamu kok duduk di kursiku, aku duduk di mana?” tanyaku.

“Ya, kamu duduk dengan aku,” katanya. “Ada-ada saja,” jawabku.

Dia tak beranjak. Sementara Wiwin, temanku mengalah, dia duduk di belakang menggantikan tempat Ahmad. Sebenarnya aku akan duduk di kursi Ahmad, tapi Wiwin melarangku.

“Sudah kamu duduk di sini saja,” kata Wiwin.

Aku pun duduk bersebelahan dengan Ahmad. Kami mengikuti pelajaran seperti biasa. Sampai kami pulang. Ahmad berjalan di sampingku, sambil menyanyikan lagu kesukaannya. Ahmad menemaniku menunggu angkutan.

“Kamu kok nggak segera pulang?” tanyaku. “Nanti saja, aku kan bawa sepeda,” jawabnya.

Besok Minggu, teman-teman mau main ke rumahku mengambil buah rambutan. Kamu mau ikut ndak?” tanyanya kemudian.

“Nggak ah, aku malas pergi, ndak boleh sama ibu,” jawabku.

“O, begitu. Ya sudah,” jawabnya.

Dia diam, ada sejuta kecewa yang kutangkap. Dia menatapku dan aku hanya tersenyum. Ahmad memegang pundak dan kemudian tanganku.

Aku terkejut, ternyata aku bermimpi.

Aku duduk. “Ya Allah, mengapa aku bermimpi dia. Setelah sekian lama aku tak bertemu dengan dia mengapa malam ini Engkau mempertemukan kami dalam mimpi. Kau gugah kembali perasaanku padanya setelah 17 tahun aku simpan. Aku sudah berkeluarga, dengan cinta yang suami dan anakku berikan padaku saat ini sudah cukup membahagiakanku.

Aku miring ke kanan. Kulihat suamiku masih terlelap. Kupeluk suamiku, aku meneteskan air mata. Air mata tidak mau kehilangan. Setengah sadar suamiku kembali memelukku. Beberapa lama aku mencoba memejamkan mata dan menghilangkan mimpi itu. Hingga aku pu tertidur kembali dan terbangun dengan suara azan subuh. Dalam doa subuh yang hanya aku dan Allah yang tahu, aku memohon agar Allah memberikan kekuatan agar aku bisa melupakan mimpi itu.

Paginya, rutinitas kami pun kembali seperti biasanya di hari libur terakhir. Anak-anak menyiapkan perlengkapan sekolahnya, sementara aku sibuk memasak dan membersihkan rumah. Suamimku mencuci mobil dan sepeda motor.

Sekitar pukul 10.00 WIB HP suamiku berbunyi. Tanpa sengaja aku membuka WA di HP. Ada japri masuk. Aku baca, ada sesuatu yang kurasakan. Aku diam.

“Mas, ada WA,” kataku. “Ya, sebentar,” jawabnya.

“Kalimatnya kok kayak gitu ya pada pimpinan,” tanyaku. Kebetulan suamiku adalah seorang pemimpin di sebuah instansi.

“Ah, biasa saja. Dia dulu teman SMA-ku sekarang aku malah sekantor dengan dia,” jelas suamiku.

Suamiku masuk mengambil HP-nya. Sekilas dia membaca dan kembali meneruskan mencuci mobil. Aku penasaran, kubuka lagi HP suamiku, aku hampir menangis membaca WA dari teman suamiku. Dari WA itu aku tahu suamiku tak menanggapinya.

Suamiku masuk ke rumah. Dia melihat aku diam.

Dia bertanya.

“Ada apa?” tanya suamiku.

“Apa iya, anak buah WA dengan pimpinan seperti itu?”

“Nggak usah digubris, biarkan saja,” jawabnya. “Iya, tapi tidak wajar saja,” kataku.

“Iya, memang ibu itu pernah suka denganku saat SMA sampai aku kuliah. Dia kaget saat melihat kita berboncengan di kampus waktu itu. Dia kecewa dan patah hati saat itu. Dan hal itu baru aku ketahui beberapa hari yang lalu. Dia bercerita padaku saat aku ditugaskan di instansi itu pada hari yang kedua. Aku juga kaget mendengar pengakuannya. Aku memahami perasaannya dan aku tidak mungkin melarangnya. Aku jelaskan bahwa sekarang kami adalah rekan kerja. Sebatas teman kerja saja dan dia pun menyetujuinya,” lanjut suamiku.

Suamiku memelukku dan diciumnya kening dan pipiku. Dicubitnya pipiku. Aku berusaha mengelak tapi dia mendekapku.

“Aku senang jika kamu cemburu, karena kamu selama ini tidak pernah punya rasa cemburu. Itu tandanya kamu menyayangiku. Percayalah padaku, akad suci itu tidak mungkin aku khianati,” lanjutnya.

“Kalau kamu tidak percaya, kapan-kapan aku pertemukan kalian. Biar bisa bercerita bersama,” tawaran suamiku.

“Enggak ah, malas. Ndak ada faedahnya,” jawabku.

“Atau kamu bisa bertanya keseharianku di sekolah pada teman-teman sekantorku,” lanjutnya.

Aku hanya merasa aneh saja, seorang anak buah chattingan dengan pimpinan seperti itu. Aku diam, aku tak mau melanjutkan pembicaraan itu. Aku menggeleng. Aku percaya pada suamiku meski ada rasa sedikit kekhawatiran, tapi aku percaya Allah akan menjaganya.

Lanjut ke seri 3 besok pagi

Penulis : Puji Prasetyowati

TINGGALKAN KOMENTAR

Tefa Prodi TKJ

Majalah SMKN 1 Tuntang

Data Sekolah

SMKN 1 Tuntang

NPSN : 6990563

Jl. Mertokusumo Candirejo Tuntang Kabupaten Semarang
KEC. Tuntang
KAB. Semarang
PROV. Jawa Tengah
KODE POS 50131
TELEPON 081390220602
FAX 0723-1234567
EMAIL smkn1tuntang@gmail.com

Novel Karya Siswa

Toilet SMKN 1 Tuntang

Agenda

Tefa Prodi Tata Busana

Laboratorium Komputer

Kalender

Agustus 2021
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031