
Pada hari Rabu, 30 Juli 2025, suasana di SMKN 1 Tuntang terasa berbeda dengan digelarnya Kegiatan Deteksi Dini NAPZA Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis. Acara tersebut bertujuan untuk membekali para pelajar dengan pemahaman mendalam tentang bahaya NAPZA dan pentingnya kesehatan mental, dihadiri oleh 100 siswa-siswi pilihan dari kelas X TO 1, X TJKT 1 dan X Busana 1. Acara terlaksana atas kerja sama sekolah dengan Puskesmas Gredangan, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan edukasi dini terkait bahaya penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) serta pentingnya menjaga kesehatan mental di kalangan remaja. Tidak hanya materi, siswa juga mendapatkan kesempatan untuk menjalani screening kesehatan secara gratis, termasuk pemeriksaan dasar dan skrining risiko adiksi menggunakan metode ASSIST, yakni Alcohol, Smoking and Substance Involvement Screening Test.
Kegiatan dibuka dengan sesi pemaparan yang sangat informatif dari Bapak Solikhun, M.H., perwakilan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah. Beliau membahas secara mendalam mengenai efek dopamin akibat penyalahgunaan NAPZA. Dalam penjelasannya, Bapak Solikhun memaparkan bagaimana zat-zat adiktif ini bekerja membanjiri otak dengan dopamin, menciptakan sensasi kesenangan sesaat yang kemudian berujung pada ketergantungan dan kerusakan saraf. Tidak hanya itu, siswa-siswi juga diberikan pemahaman mengenai penggolongan narkoba berdasarkan efeknya. Materi ini sangat penting agar para pelajar dapat mengenali berbagai jenis NAPZA dan memahami dampak spesifik yang ditimbulkan oleh masing-masing golongan, mulai dari stimulan, depresan, hingga halusinogen. Pengetahuan ini diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan bagi mereka agar tidak terjerumus dalam lingkaran penyalahgunaan narkoba.
Sesi kedua tak kalah pentingnya, disampaikan oleh Ibu Rischa dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Di sela-sela kegiatan Screening ASSIST yang dilakukan untuk mendeteksi risiko penyalahgunaan zat pada siswa, Ibu Rischa memaparkan materi mengenai PL3P atau Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis. Ibu Rischa menyoroti fenomena yang marak terjadi saat ini, yaitu banyaknya individu yang menderita kecemasan berlebih yang dapat berujung pada depresi. Beliau menekankan bahwa masalah kesehatan mental seringkali luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa sangat serius. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Rischa dengan penuh empati berpesan kepada seluruh siswa untuk memiliki kepekaan terhadap teman-teman mereka. Beliau menyampaikan pentingnya untuk merangkul teman yang sedang bersedih dengan cara mendengarkan secara penuh empati. Pesan ini mengandung makna mendalam tentang pentingnya dukungan sosial dan peran aktif sesama pelajar dalam menjaga kesehatan mental komunitas sekolah.
Menurut beliau, luka psikologis sering kali tidak terlihat namun dapat berdampak besar terhadap kehidupan seseorang. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mampu mengenali tanda-tanda gangguan psikologis baik pada diri sendiri maupun orang lain. Ibu Rischa menyampaikan bahwa mendengarkan dengan empati adalah langkah awal sederhana namun sangat bermakna. Ia mengajak siswa untuk tidak mengabaikan teman yang tampak murung, melainkan merangkul dan mendengarkan mereka dengan tulus. “Terkadang, yang dibutuhkan seseorang hanyalah ditemani dan didengarkan tanpa dihakimi,” ujarnya.
Penulis : Sukma Windyasari, S.Pd., Waka Humas SMKN 1 Tuntang




