SEKILAS INFO
: - Minggu, 01-08-2021
  • 3 hari yang lalu / Alhamduillah puji syukur kepada Allah SWT Bapak dan Ibu Guru Karyawan SMKN 1 Tuntang berhasil mengkhatamkan Al Quran untuk kedua kali.
  • 1 minggu yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H. Dengan semangat berkurban kita galang jogo tonggo dan eling lan ngelingke di masa pandemi Covid-19
  • 2 minggu yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah RI yang telah melakukan vaksinasi tahap 2 terhadap guru dan karyawan.
Sebuah Renungan Tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Gerakan literasi sekolah sudah dicanangkan oleh pemerintah bersamaan dengan pergantian kurikulum. Kurikulum lama yang dirasa sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman diganti dengan kurikulum baru yaitu kurikulum-13. Kurikulum 13 sudah mengalami berkali kali revisi. Revisi terakhir pada tahun 2015. Dalam revisi tersebut termaktub tentang GLS.

Gerakan literasi sekolah adalah gerakan yang bertujuan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat untuk belajar (membaca dan menulis) agar warganya bisa selalu literat sepanjang hidup dengan melibatkan peran publik.
Gerakan literasi sekolah ini wajib digalakkan karena minat membaca dan menulis masyarakat Indonesia masih tergolong minim. Program literasi sekolah ini diharapkan mampu membangkitkan minat membaca dan menulis sejak dini.

Gerakan Literasi Sekolah dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Mendikbud mengatakan, Permendikbud tersebut adalah sebuah upaya untuk menumbuhkan budi pekerti anak. Kata yang dipakai adalah penumbuh karena menumbuhkan, bukan menanamkan budi pekerti. Menumbuhkan budi pekerti, berbeda maknanya dengan menanamkan budi pekerti.

Maksudnya adalah memberikan ruang bagi tumbuhnya budi pekerti dari dalam diri si anak. Kalau memanamkan berarti kita memasukkan dari luar diri si anak. Karena pada dasarnya anak-anak itu sudah memiliki modal dasar budi pekerti.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Mahsun, mengatakan Gerakan Literasi Sekolah ini bertujuan membiasakan dan memotivasi siswa untuk mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti. Dalam jangka panjang, diharapkan dapat menghasilkan anak-anak yang memiliki kemampuan literasi tinggi.

Karena itulah, buku-buku yang dibagikan untuk sekolah dalam Gerakan Literasi Sekolah adalah buku-buku yang dapat menumbuhkan budi pekerti. Buku yang dijadikan acuan sebagai bahan literasi di sekolah di antaranya buku cerita atau dongeng lokal, buku-buku yang menginspirasi seperti biografi tokoh lokal dan biografi anak bangsa yang berprestasi, buku-buku sejarah yang membentuk semangat kebangsaan atau cinta tanah air.

Kegiatan literasi ini tidak hanya membaca, tetapi juga dilengkapi dengan kegiatan menulis yang harus dilandasi dengan keterampilan atau kiat untuk mengubah, meringkas, memodifikasi, menceritakan kembali, dan seterusnya, tutur Mahsun.

Dari pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan saat meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah dapat disimpulkan bahwa Gerakan Literasi Sekolah yang dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 adalah upaya untuk menumbuhkan budi pekerti anak. memberikan ruang bagi tumbuhnya budi pekerti dari dalam diri si anak karena pada dasarnya anak-anak itu sudah memiliki modal dasar budi pekerti.

Tujuan umum gerakan literasi sekolah adalah menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti para peserta didik agar menjadi insan literat sepanjang hidup melalui ekosistem literasi yang dibangun dalam gerakan literasi sekolah. Tujuan khususnya adalah membentuk budaya literasi di lingkungan sekolah. Meningkatkan insan literat di lingkungan sekolah. Meningkatkan pengelolaan pengetahuan di lingkungan sekolah melalui sekolah ramah anak yang menyenangkan. Menjadi wadah untuk menumbuhkan strategi membaca, sehingga keberlanjutan pembelajaran bisa selalu dihadirkan.

GLS yang dicanangkan oleh pemerintah dalam Permendikbud Nomor 21 tahun 2015 belum berjalan dengan maksimal. Hal itu terbukti dari riset UNESCO Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!.  Ini merupakan jumlah yang mengecewakan karena artinya masih kecil budaya membaca orang Indonesia.

Riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Padahal kalau dilihat di pameran-pameran buku, selalu ramai dikunjungi oleh banyak anak yang antusias membaca. ( https://www.konde.co/2020/03/minat-baca-orang-indonesia-paling.html) diakses 7 Maret 2021.

Dari data Unesco tersebut menunjukkan bahwa program GLS dari pemerintah tidak berjalan dengan maksimal. Kurangnya maksimal program GLS tersebut dipengaruhi beberapa faktor antara lain rendahnya minat baca anak, tidak ada teladan baik dari guru maupun orang tua, Hp lebih menarik dibanding buku, kurangnya pengawasan orang tua dan guru, merebaknya masa pandemic.

Untuk mengatasi problem rendahnya minat baca terutama minat baca siswa sekolah, ada beberapa cara. Salah satu cara untuk menumbuhkan minat baca anak dengan memaksa anak membaca buku setiap hari dan merangkumnya menjadi sebuah buku catatan. Kemudian wali kelas merekap dan menilainya setiap hari. Selain kegiatan tersebut ada lagi program kegiatan wajib kunjungan ke perpustakaan. Pembuatan mading kelas atau sekolah setiap bulan. Membaca buku nonpelajaran sebelum dimulai pembelajaran. Membuat pohon literasi di setiap mading kelas. Kegiatan menghafal kosa kata baru dan menuliskannya dalam bentuk kalimat. Mengadakan perlombaan karya literasi setiap satu semester. Membuat perpustakaan mini di dalam kelas beserta spot membaca yang nyaman.

Selama di rumah saja, tentu kegiatan literasi yang digagas Kemdikbud tersebut menemukan sejumlah kendala. Namun, hal itu tidak berlangsung lama.

Saat ini, Kemdikbud sudah mengeluarkan sejumlah kebijakan terkait relaksasi kurikulum, yaitu guru tidak dibebani untuk menyelesaikan seluruh kompetensi dasar, melainkan bisa dipilih KD mana saja yang esensial.

Tidak hanya itu, Kemdikbud sudah menyediakan modul literasi yang bisa diunduh secara bebas oleh peserta didik, guru, dan masyarakat.

Ketersediaan modul literasi digital ini diharapkan mampu mempertahankan minat membaca dan menulis para peserta didik dan guru. Dengan demikian, gerakan literasi sekolah di masa pandemi bisa tetap dijalankan, sehingga fungsi literasi sekolah bisa didapatkan di rumah.

Penulis : Ratih Fauziah, Guru SMPN 1 Pabelan Kabupaten Semarang

TINGGALKAN KOMENTAR

Tefa Prodi TKJ

Majalah SMKN 1 Tuntang

Data Sekolah

SMKN 1 Tuntang

NPSN : 6990563

Jl. Mertokusumo Candirejo Tuntang Kabupaten Semarang
KEC. Tuntang
KAB. Semarang
PROV. Jawa Tengah
KODE POS 50131
TELEPON 081390220602
FAX 0723-1234567
EMAIL smkn1tuntang@gmail.com

Novel Karya Siswa

Toilet SMKN 1 Tuntang

Agenda

Tefa Prodi Tata Busana

Laboratorium Komputer

Kalender

Agustus 2021
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031