
Pada era globalisasi ini, pembelajaran sejarah tidak lagi hanya sekadar menghafal tanggal dan nama tokoh. Pembelajaran haruslah mengundang rasa ingin tahu dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Salah satu model pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan ini adalah model pembelajaran inkuiri. Model ini mendorong siswa untuk aktif mencari dan menemukan jawaban atas permasalahan yang mereka hadapi, bukan sekadar menerima informasi dari guru. Materi pendudukan Jepang sering kali menjadi topik yang kering karena fokus pada kronologi dan kebijakan-kebijakan yang cenderung bersifat teoritis. Dengan model inquiry, siswa diajak untuk melihat sejarah dari sudut pandang yang berbeda. Mereka tidak hanya belajar tentang eksploitasi dan penderitaan, tetapi juga tentang bagaimana bangsa Indonesia berinteraksi dengan budaya dan kebijakan Jepang, termasuk penggunaan bahasa dan aksara mereka.
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945), pemerintah militer Jepang berusaha membentuk simpati dan loyalitas rakyat Indonesia terhadap Kekaisaran Jepang melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mengenalkan budaya dan bahasa Jepang, termasuk pengajaran aksara Jepang seperti Hiragana, Katakana dan Kanji. Upaya ini menjadi bagian dari propaganda Jepang yang dikenal dengan semboyan ‘Hakekokujin’ atau persaudaraan Asia Timur Raya. Pembelajaran ini dirancang untuk menghidupkan kembali pengalaman historis rakyat Indonesia yang dipaksa belajar aksara Jepang. Dalam kegiatan ini, guru mengembangkan tema pembelajaran dengan judul ‘Memecahkan Kode Rahasia Jepang.’ Dalam model ini, guru berperan sebagai fasilitator, bukan satu-satunya sumber informasi. Tugas guru adalah menciptakan situasi yang menantang dan memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah.
Berikut merupakan alur pembelajaran Memecahkan Kode Rahasia Jepang yang diterapkan di SMKN 1 Tuntang. Pertama ialah Orientasi dan Eksplorasi Masalah (Guru menyiapkan materi). Guru memulai pembelajaran dengan memberikan pengantar mengenai pendudukan Jepang di Indonesia. Guru tidak hanya membahas aspek militer dan politik, tetapi juga menyoroti kebijakan Jepang yang terkait dengan budaya dan pendidikan. Salah satu hal menarik yang bisa disampaikan adalah bagaimana Jepang saat itu mengajarkan bahasa dan aksara mereka, yaitu Hiragana, Katakana dan Kanji, kepada rakyat Indonesia. Pengetahuan ini menjadi kunci utama dalam pemecahan masalah. Guru bisa menampilkan beberapa contoh tulisan aksara Jepang di slide presentasi atau papan tulis, seperti nama tokoh atau istilah penting pada masa itu, untuk membangkitkan rasa penasaran siswa. Kedua ialah Perumusan Hipotesis dan Tantangan. Guru kemudian membagikan kertas kepada setiap siswa atau kelompok. Kertas tersebut berisi sebuah tantangan yakni memecahkan 10 soal berisi istilah Jepang yang ditulis dalam aksara Katakana. Istilah-istilah ini bisa berhubungan dengan masa pendudukan Jepang, seperti nama organisasi misalnya, Romusha atau Seinendan. Pada tahap ini, siswa dihadapkan pada masalah yang nyata. Mereka tidak bisa langsung menjawab pertanyaan tanpa terlebih dahulu memahami cara membaca aksara Katakana.
Dalam Pengumpulan Data dan Penyelidikan, siswa mulai bekerja dalam kelompok. Mereka akan mencoba membaca aksara Jepang tersebut dengan melihat contoh yang disediakan oleh guru. Selama proses ini, guru dapat berkeliling untuk memberikan bimbingan, tetapi tidak memberikan jawaban secara langsung. Setelah berhasil menerjemahkan semua istilah, setiap kelompok akan menganalisis temuan mereka. Mereka harus menjelaskan arti dari setiap istilah yang berhasil diterjemahkan dan mengaitkannya dengan konteks sejarah pendudukan Jepang. Misalnya jika mereka menerjemahkan Romusha, mereka harus menjelaskan apa itu Romusha, siapa yang terlibat, dan bagaimana dampaknya bagi rakyat Indonesia. Tahap ini mendorong siswa untuk tidak hanya sekadar menerjemahkan, tetapi juga memahami makna di balik kata-kata tersebut. Setelah itu setiap kelompok mempresentasikan hasil temuan mereka di depan kelas. Mereka akan berbagi proses yang mereka lalui, tantangan yang dihadapi dan kesimpulan yang mereka peroleh.
Di akhir sesi, guru memimpin diskusi reflektif. Guru bertanya kepada siswa, “Apa yang kalian pelajari dari kegiatan ini? Apakah sekarang kalian lebih memahami bagaimana pendudukan Jepang memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia?” Refleksi ini membantu siswa menyadari pentingnya kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah dalam mempelajari sejarah. Melalui model pembelajaran inquiry dengan tema ‘Memecahkan Kode Rahasia Jepang,’ proses belajar sejarah tidak hanya menjadi hafalan peristiwa, tetapi juga menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi dan apresiasi terhadap perjuangan bangsa. Inovasi ini diharapkan mampu menghidupkan kembali sejarah secara kontekstual dan menyenangkan bagi peserta didik SMK.
Penulis : Sukma Windyasari, S.Pd., Humas SMKN 1 Tuntang
Editor : Nurul Rahmawati, S.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang




