
Fase remaja sering kali diibaratkan sebagai jembatan yang penuh badai antara masa kanak-kanak dan dewasa. Di sinilah letak pencarian identitas pada remaja. Untuk menjawab pertanyaan mendasar, “Siapa saya sebenarnya?” Mari kita ulas mendalam mengenai dinamika remaja dalam menemukan jadi diri mereka. Yang pertama ialah memahami krisis identitas, menurut Psikolog Erik Erikson, perkembangan ini disebut dengan tahapan identity vs role confusion. Di mana remaja tidak lagi ingin didefinisikan hanya sebagai ‘anak dari orang tua mereka.’ Mereka mulai mengeksplorasi nilai, keyakinan dan tujuan hidup yang mandiri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan adanya perubahan kognitif di mana remaja mulai mampu berpikir abstrak, perubahan hormonal di mana mereka lebih sensitive terhadap persepsi orang lain dan ekspektasi sosial adanya tekanan untuk memilih jalur karier atau kelompok pergaulan tertentu.
Dalam karakteristik pencarian jati diri, proses ini remaja biasanya menunjukkan beberapa perilaku khas. Di mana adanya sikap kritis yang seringkali lebih mejadi argumentative terhadap aturan di rumah maupun di sekolah sebagai bentuk uji coba kemandirian berpikir. Para orang tua dihadapkan pada tantangan di era digital. Pada tahun 2026 ini, pencarian identitas tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga di ruang siber atau yang dikenal dengan media sosial yang bisa menjadi pedang bermata dua yaitu dampak negatif dan dampak positif. Maka diperlukannya peran pendukung orang tua dan lingkungan. Pencarian identitas yang sehat bukan berarti remaja dibiarkan tanpa arah, melainkan didampingi dengan ruang gerak yang cukup. Identitas yang kuat terbentuk ketika remaja diberi kesempatan untuk mengeksplorasi pilihan, namun tetap memiliki nilai-nilai dasar sebagai jangkar.
Jadilah pendengar bukan hakim, hindari langsung mengkritik perubahan selera atau pendapat mereka. Berikan validasi, akui bahwa perasaan bingung atau bimbang yang mereka alami adalah hal yang normal. Konsistensi batasan, meskipun mereka mencari kebebasan, aturan yang konsisten memberikan rasa aman (struktur) di tengah ketidakpastian emosi mereka. Pada kesimpulannya fase pencarian identitas bukanlah sebuah gangguan perilaku, melainkan tugas perkembangan yang krusial. Remaja yang berhasil melewati fase ini dengan baik akan tumbuh menjadi orang dewasa yang memiliki prinsip, percaya diri dan mampu menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.
Penulis : Yunika Intan Wahyuningrum, S.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang
Editor : Nurul rahmawati, S.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang



