
Pada suatu Hikayat Islam, terdapatlah seseorang yang mengadu kepada Rosulullah SAW, “Kami iri kepada orang kaya yang selalu bersedekah, sementara kami hanya bisa menangis dan berdoa.” la datang tergesa, napasnya berat menahan tangis. Langkah kakinya berdebu, pakaiannya lusuh dan suaranya hampir hilang oleh tangisan yang ia tahan berhari-hari. Namanya tidak dikenal. la bukan siapa-siapa. Tak punya harta. Tak punya nama. Tak punya kuasa. Yang ia punya hanya cinta. Tapi apakah itu cukup untuk dicintai Allah? Di hadapan Rasulullahﷺ ia bersimpuh dan pecahlah jerit batinnya, “Ya Rasulullah, aku melihat mereka bersedekah dengan emas, mereka memberi makan orang, membangun rumah, mengalirkan air ke desa-desa, sementara aku bahkan tak mampu memberi sepotong roti kepada anakku sendiri…”
Tangisnya pecah. la menunduk bukan karena malu pada manusia. Tapi karena takut tak dicintai Tuhannya. “Ya Rasulullah… aku shalat seperti mereka, aku puasa seperti mereka, tapi aku tak punya harta untuk menambah ibadahku seperti mereka. Apakah Allah akan memandangku hina hanya karena aku tak punya apa-apa?” Rasulullah ﷺ tidak langsung menjawab. Beliau menatap wajah yang remuk itu. Wajah yang mungkin tak pernah dipandang orang, tapi hari ini dipandangi penuh kasih oleh manusia paling mulia yang pernah hidup.
Rasulullahﷺ menggenggam tangannya. Lalu bersabda dengan suara yang membuat langit ikut meneteskan air mata, “Wahai saudaraku tidakkah kau tahu, bahwa Allah membuka pintu sedekah bagi setiap jiwa tak peduli berapa isi sakunya? Setiap ucapan subhanallah adalah sedekah. Setiap alhamdulillah, laa ilaaha illallah, Allahu Akbar adalah sedekah. Setiap nasihat kebaikan yang kau ucapkan, setiap larangan pada keburukan yang kau sampaikan, bahkan setiap langkah kakimu menuju kebaikan semuanya adalah sedekah.” Dan sabda itu menyayat kalbunya. Bukan melukai, tapi mengobati luka yang tak bisa disembuhkan oleh dunia. Tangisnya berubah menjadi tangis syukur. (Sumber: Ihya’ Ulumuddin)
Penulis : Muhammad Muslih, S.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang
Editor : Nurul Rahmawati, S.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang



