Mengukir Cerita dan Cita di SMKN 1 Tuntang

Setiap menjelang tahun ajaran baru seringkali orang tua dan anaknya masih bimbang untuk memilih sekolah lanjutan. Terutama orang tua yang memiliki anak lulusan SMP. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa memilih sekolah pasca SMP lebih rumit ketimbang memilih sekolah setelah lulus dari SD. Jika lulus dari SD kebanyakan anak lebih mudah diarahkan orang tuanya untuk memilih sekolah lanjutannya. Akan tetapi berbeda dengan lulusan SMP, anak-anak lulusan SMP secara pemikiran sudah bisa diajak berdiskusi untuk menentukan sekolah mana yang akan membuatnya mampu mengukir cerita, asa, dan cita untuk masa depannya kelak.

Masa depan memanglah penuh misteri, kita tidak bisa menggambarkannya saat ini. Tetapi bukan berarti masa depan tidak bisa kita prediksi dan persiapkan mulai saat ini. Memilih sekolah setelah lulus dari bangku SMP juga merupakan salah satu ihtiar menyiapkan masa depan. Jika kita amati, disepanjang jalan yang kita lalui seringkali kita temui poster-poster, baliho dan pamflet tentang promosi sekolah, terutama SMA sederajat. Di berbagai informasi tersebut bisa kita jumpai keunggulan-keunggulan untuk memikat calon murid untuk memilih sekolah-sekolah tersebut.

Diantara keunggulan-keunggulan yang sering ditonjolkan ialah pertama, fasilitas sebuah sekolah, padahal jika kita berpikir secara realistis, fasilitas merupakan hal yang biasa, dan memang sudah sewajarnya sekolah memberikan fasilitas yang terbaik untuk muridnya. Toh, ketika murid sudah lulus dari sekolah tersebut, fasilitasnya tidak bisa kembali digunakan.
Kedua, mengunggulkan murid berprestasi, kita tidak bisa memungkiri bahwa murid berprestasi memang membanggakan sekolah. Tetapi jangan lupa bahwa di ajang pencarian bakat seringkali kontestan yang bukan juara 1 karyanya lebih dikenal secara luas dan mudah diterima masyarakat. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita agar kita tidak hanya fokus kepada yang berprestasi akan tetapi memupuk semua agar bisa meraih prestasi secara menyeluruh bukan hanya individu-individu tertentu.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah mampukah lulusan SMP mengukir cerita dan cita jika memilih SMK Negeri 1 Tuntang sebagai sekolah pilihan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa hal yang patut kita cermati. Selama ini masih banyak asumsi yang berkembang di masyarakat yang menganggap bahwa SMK sebagai sekolah kelas dua di bawah SMA (Republika.co.id). Padahal jika kita kaji lebih mendalam semua memiliki plus minusnya masing-masing.

Ketika memilih masuk SMA, maka harus siap mempelajari berbagai disiplin ilmu. Sebab komposisi materi di SMA terdiri atas 90% teori dan 10% praktik. Sementara jika memilih SMK, harus siap dengan gaya belajar yang berbeda, dengan porsi 60% praktik dan 40% teori. Dalam kesehariannya, anak yang memilih SMK akan lebih banyak diajari langsung bagaimana praktik melakukan sesuatu ketimbang teori. Praktik ini pula yang akan mengasah keterampilan dan menjadi modal utama saat bekerja langsung di lapangan (educenter.id). Dari visi dan misi SMK Negeri 1 Tuntang tidak mustahil lulusan SMP akan mampu mengukir cerita dan cita apabila menjadikan SMK Negeri 1 Tuntang sebagai sekolah pilihan. Sebab semua bermuara pada menumbuhkan sikap kewirausahaan setiap alumnusnya sebagai cerminan penguasaan kompetensi untuk bekal hidup secara mandiri, meningkatkan intensitas dan frekuensi dalam menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan industri, menciptakan peluang dan kesempatan yang maksimal dalam mengimplementasikan seperangkat teori di lapangan kerja secara real, menciptakan tenaga yang memiliki kompetensi teknologi informasi dan komunikasi. Disamping itu, para pengajar di SMK Negeri 1 Tuntang juga merupakan sosok-sosok yang sangat produktif dalam berkarya. Simaklah situsnya, di dalamnya berisikan karya-karya para guru.

Akhirnya, lulusan yang berkompeten itu, aku bisa apa? Aku mampu apa? Bukan ini ijazahku. Dan untuk mencetak karakter kompeten bisa dimulai dari SMK. Oleh karena itu, memilih SMK Negeri 1 Tuntang sebagai sekolah pilihan? Mengapa tidak?.

*Penulis adalah Guru SMP Islam Al Azhar 29 BSB City Semarang, penulis bisa dihubungi di IG @m_jafar_shodiq_al_alawi