SEKILAS INFO
: - Jumat, 24-09-2021
  • 1 bulan yang lalu / Pemenang Lomba Guru Menulis SMKN 1 Tuntang akan diumumkan hari ini pukul 09.45 WIB.
  • 1 bulan yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Dirgahayu Propinsi Jawa Tengah ke 71
  • 1 bulan yang lalu / SMKN 1 Tuntang mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1443 H
Kesehatan Mental Remaja Selama Pandemi

Ditutupnya sekolah dan dibatalkannya berbagai aktivitas penting, membuat banyak remaja kehilangan beberapa momen besar di kehidupan mereka. Mereka juga kehilangan momen keseharian seperti mengobrol dengan teman dan berpartisipasi di sekolahnya. Menghadapi situasi ‘baru’ ini di mana terjadi perubahan hidup yang signifikan, membuat para remaja tidak hanya kecewa, namun juga mengalami kecemasan dan perasaan terisolasi yang membebani.

Menurut analisis data yang disampaikan Unicef, sebanyak 99 persen anak-anak dan remaja usia di bawah 18 tahun di seluruh dunia (2,34 miliar) tinggal di salah satu dari 186 negara dengan beberapa bentuk pembatasan gerakan yang berlaku karena adanya Covid-19. Sebanyak 60 persen anak tinggal di salah satu dari 82 negara dengan lockdown penuh (7 persen) atau sebagian (53 persen), yang jumlahnya mencakup 1,4 miliar jiwa muda. Menurut data survei Global Health Data Exchange 2017, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kesehataan kejiwaan. Artinya, satu dari sepuluh orang di negara ini mengidap gangguan kesehatan jiwa atau mental health.

Untuk data kesehatan mental remaja di Indonesia sendiri pada 2018, terdapat sebanyak 9,8% merupakan prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala depresi dan kecemasan untuk remaja berumur lebih dari 15 tahun, meningkat dibandingkan pada 2013. Hanya 6% untuk prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala depresi dan kecemasan remaja berumur lebih dari 15 tahun. Sedangkan untuk prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia pada 2013 mencapai 1,2 per seribu orang penduduk.

Saat kesehatan mental remaja tertekan, bisa dilihat tanda-tandanya seperti terlihat tidak bersemangat, nafsu makannya berkurang, pola tidurnya terganggu atau susah tidur, dan merasa khawatir berlebihan.Yang bisa dilakukan untuk mengatasi kesehatan mental remaja tersebut yaitu dengan memberikan pengertian pada remaja untuk bisa menyadari bahwa kecemasannya adalah hal yang wajar. Kecemasan yang dialami remaja adalah fungsi normal dan sehat yang bisa membuat kita waspada terhadap ancaman, dan membantu kita mengambil tindakan untuk melindungi diri.

Mencari informasi yang benar dari sumber terpercaya, mengurangi bermain sosial media, serta membatasi melihat berita tentang virus Corona juga dapat mengurangi kecemasan yang dirasakan remaja. Sebisa mungkin orang tua menjadi teman berbagi bagi remaja. Berikan ruang bagi remaja untuk terbuka soal perasaan khawatirnya kepada orangtua. Hindari terlalu sering membicarakan Corona atau carilah pengalihan suasana dengan kegiatan menyenangkan dan hal-hal yang produktif. Kegiatan ini dinilai bisa mengurangi kecemasan dan membuat remaja merasa tidak terlalu terbebani. Biarkan remaja menghubungi teman-teman untuk menjalin komunikasi, berbagi cerita dan melampiaskan apa yang dirasakannya. Dengan begitu, kejenuhan remaja saat pandemi bisa terlepaskan. Be safe and stay healthy!

 

Penulis : Aristiani, S.Pd.
Editor : Nurul Rahmawati, M.Pd.

Pengumuman sebelumnyaMenerapkan Disiplin Pada Remaja Pengumuman setelahnyaHandphone sebagai Media Pembelajaran Sederhana

Tefa Prodi TKJ

Majalah SMKN 1 Tuntang

Data Sekolah

SMKN 1 Tuntang

NPSN : 6990563

Jl. Mertokusumo Candirejo Tuntang Kabupaten Semarang
KEC. Tuntang
KAB. Semarang
PROV. Jawa Tengah
KODE POS 50131
TELEPON 081390220602
FAX 0723-1234567
EMAIL smkn1tuntang@gmail.com

Novel Karya Siswa

Toilet SMKN 1 Tuntang

Tefa Prodi Tata Busana

Laboratorium Komputer

Kalender

September 2021
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930